Text
Konflik di Maluku Tengah: Pengebab. Karakteristik. dan Penyelesaian Jangka Panjang
Isu konflik di Indonesia adalah perpaduan dari beberapa isu lama yang masih berlanjut dan isu baru yang muncul sebagai sisi lain dari gerakan reformasi.
Isu lama yang dimaksud yakni ketidakpuasan terhadap kekuasaan dalam pemerintahan yang dianggap oleh beberapa daerah sangat sentralistik. mendikte dan diskriminatif. baik yang menyangkut pengelolaan sumber daya manusia maupun sumber daya alam. Sementara itu. isu baru yang muncul ialah berkembangnya euphoria demokrasi di kalangan masyarakat sebagai konsekuensi dari runtuhnya kekuasaan rezim Orde Baru.
Konflik yang muncul pada masa transisi saat ini ialah lahirnya keakuan kelompok yang membedakan diri dengan mereka. situasi ini dipertajam manakala diberlakukannya pelaksanaan Otonomi Daerah sejak Januari
2001. Perbedaan antara aku dan mereka memunculkan kondisi konflik yang salah satunya bersumber dari ketidakselarasan kultural. baik yang bersumber pada persoalan etnik maupun agama. Faktor ketidakselarasan kultural sebagai sumber konflik muncul dari tiadanya penghargaan suatu kelompok (seringkali kaum pendatang di suatu daerah) terhadap budaya dan kebiasaan masyarakat setempat. Dalam keadaan demikian. suatu kelompok etnis atau kelompok identitas dapat bangkit kembali karena warga kelompok tersebut menganggap diri mereka berada di bawah ancaman.
Penelitian ini bertujuan melakukan analisis pemetaan konflik di Maluku Tengah periode 1999-2002 baik dari sumber akselelator. faktor-faktor pemicu. maupun analisa atas kelompok-kelompok dan aktor-aktor yang terlibat dalam konflik tersebut. baik dalam arti positif maupun negatif.
Kedepan. kajian ini diharapkan menghasilkan model penyelesaian konflik jangka panjang di Maluku pada khususnya dan Indonesia pada umumnya.
Hasil kajian dalam buku ini menunjukkan bahwa konflik di Maluku Tengah murni tidak lagi menjadi konflik lokal setelah adanya politisasi yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu. Indikasi tersebut terlihat dari adanya upaya untuk menggeser motif kerusuhan di Maluku Tengah dari persoalan adat dan wilayah ke sentimen agama. Sementara itu. kuatnya distorsi politisasi pendekatan kekerasan menyebabkan masyarakat Maluku Tengah tidak lagi menghormati atau percaya pada kredibilitas pihak-pihak yang memiliki otoritas atas mereka. seperti aparat keamanan. pemerintah. parlemen. maupun para pemuka agama dalam menyelesaikan konflik di Maluku.
Tidak tersedia versi lain